4 November 2010
Bacaan : Markus 2:1-2
“Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai, anak-Ku dosamu sudah diampuni”
Markus 2:5
Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang orang lumpuh yang diturunkan dari atap untuk disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Yang saya kagumi bukanlah bagaimana ia disembuhkan, melainkan bagaimana ia dibawa ke tempat itu. Ia digotong oleh empat orang kawannya. Pasti berat menggotongnya. Rumahnya mungkin jauh dari tempat itu. Lalu ternyata tempat itu sudah dipenuhi banyak orang sehingga tidak ada lagi jalan masuk. Untungnya keempat kawannya mempunyai akal. Mereka menggotong dia naik ke atap. Kemudian mereka mengikat tilam pembaringan orang lumpuh itu dengan empat utas tali. Sesudah itu mereka membuka atap. Lalu mereka mengulur tali itu dan menurunkan orang lumpuh itu perlahan-lahan ke lantai dasar.
Pasti susah. Pasti harus berhati-hati dan seimbang. Apa jadinya kalau salah satu utas tali itu terlalu cepat turun, pasti tilam itu miring dan kalau salah satu utas tali itu tiba-tiba putus. Tetapi ternyata mereka berhasil. Hebat! Lalu apa reaksi Tuhan Yesus? Ternyata Ia bisa menerima gangguan itu. Yesus memuji iman mereka. Siapakah mereka dalam konteks ini? Itulah kawan-kawan orang lumpuh itu. Yesus menilai perbuatan mereka sebagai perbuatan iman.
Sungguh beruntung orang itu. Ia mempunyai kawan-kawan yang menggotong dia memberi semangat dan pengharapan. Hidup terasa bermakna lagi. Tanpa kawan-kawan ini, orang lumpuh itu hanya bisa terkulai seorang diri di rumah. Itulah indahnya persahabatan. Bersikap sebagai sahabat adalah karunia tersendiri. Seorang sahabat adalah dia yang mampu menerima kita apa adanya, kelemahan sekaligus keunggulan kita. Jadilah seorang sahabat.
Hitunglah berkatmu dengan senyum, bukan dengan air mata. Hitunglah usiamu dengan teman, bukan tahun. (Anonim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar