Berbuah

6 November 2010
Bacaan : Yohanes 15 : 1-9
“Setiap ranting padaKu yang tidak berbuah dipotongNya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkanNya, supaya ia lebih banyak berbuah.”
Yohanes 15:2

Kita semua menyadari begitu kita mendengar kata “berbuah” hal ini sangat kuat dengan pengertian “sebuah hasil” bahkan dapat diperluas dalam arti “sebuah hasil yang dapat dinikmati”.

Di rumah, saya menanam sebuah pohon belimbing sayur. Saya masih ingat, sesudah ditanam berbulan-bulan pohon ini hanya berdaun lebat dan tidak berbuah, sehingga saya harus memangkas daun-daunnya dan meninggalkan batang pohon ini menjadi gundul. Tetapi, tidak lama sesudah itu pohon ini menghasilkan satu buah. Meskipun hanya satu, hal ini sudah cukup membuat saya gembira. Saya mulai memangkas kembali daun-daunnya yang telah tumbuh lebat dan memotong ranting-rantingnya supaya pohon ini tidak tumbuh terlalu tinggi. Karena sibuk, saya tidak pernah lagi memperhatikan pohon ini sampai suatu pagi ketika saya melihat kebun, tiba-tiba saya dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang sangat menarik, sebuah pohon dengan buah belimbing sayur yang bergelantungan cukup banyak.

Beginilah kehidupan kita kalau ingin berbuah. Ada saat-saat tertentu Tuhan harus memotong daun dan ranting dalam kehidupan kita supaya dapat berbuah, entah itu hobby kita, sikap hidup kita yang tidak berkenan, ke-egoisan kita, dll. Bahkan ketika kita sudah berbuah, sekali lagi Tuhan harus memotong daun dan ranting kita supaya dapat berbuah lebih banyak. Tentu saja pada saat Tuhan melakukanNya, hal ini tidak menyenangkan tetapi dengan berbuah kita dapat memberikan kehidupan dengan hasil yang dapat dinikmati oleh sesama dan Tuhan (Galatia 5 : 22). Dengan demikian hidup kita menjadi lebih berarti.

No man need stay the way he is. (Harry Emerson Fosdick)

Being Busy

5 November 2010
Bacaan : I Korintus 9:24-27
“Those who believe in God will be careful to use their lives for doing good.”
Titus 3:8

Pada sebuah gereja, kadang ada satu orang yang memiliki banyak fungsi atau peran, misalnya dia menjadi singer dan juga menjadi worship leader, di saat yang lain dia memimpin sebuah grup dan di saat lainnya ia harus bekerja. Serta entah berapa lagi hal yang harus ia lakukan untuk kemuliaan nama Tuhan. Bukankah Tuhan juga ingin agar anak-anak-Nya menggunakan setiap talenta yang ada? Jadi tidak masalah kan saat kita, anak-anak Tuhan menjadi sibuk untuk melayani? Tuhan, semasa hidupnya juga sibuk. Kapan Dia bisa beristirahat dengan tenang? Saat Ia ingin menyepi selalu saja ada gerombolan orang yang harus dilayani olehNya. Bagaimana dengan murid-muridNya? Katakanlah Paulus? Semasa hidupnya Paulus juga melakukan hal yang sama, keliling terus tanpa pernah berhenti memberitakan Firman Tuhan. Keluar masuk dari penjara, tidak butuh waktu lama baginya untuk segera mewartakan Firman lagi.

Sibuk bukanlah hal yang berdosa, belum lagi kalau kita diminta tolong untuk melakukan hal-hal yang rohani, hal yang baik untuk kepentingan orang banyak? Salahkah hal itu? Hal ini bukanlah salah atau tidak, namun pertanyaannya adalah apakah yang kita lakukan itu memang keinginan Tuhan untuk kita lakukan dalam hidup kita? Jika kita melakukan semua hal itu apakah kita mengluh capek? Mengalami kekeringan? Merasa bahwa waktu itu habis begitu saja dan kita tidak memiliki waktu yang berkualitas bersama Tuhan? Rick Warren mengatakan bahwa jika hidup kita ingin memiliki pengaruh maka fokuskanlah! Berhentilah mencoba melakukan segala hal dan lakukanlah hal-hal yang paling penting!

It is possible to be so activate in the sevice of Christ as to forger to love Him. (P.T. Forsyth)

Mujizat Persahabatan

4 November 2010
Bacaan : Markus 2:1-2
“Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai, anak-Ku dosamu sudah diampuni”
Markus 2:5

Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang orang lumpuh yang diturunkan dari atap untuk disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Yang saya kagumi bukanlah bagaimana ia disembuhkan, melainkan bagaimana ia dibawa ke tempat itu. Ia digotong oleh empat orang kawannya. Pasti berat menggotongnya. Rumahnya mungkin jauh dari tempat itu. Lalu ternyata tempat itu sudah dipenuhi banyak orang sehingga tidak ada lagi jalan masuk. Untungnya keempat kawannya mempunyai akal. Mereka menggotong dia naik ke atap. Kemudian mereka mengikat tilam pembaringan orang lumpuh itu dengan empat utas tali. Sesudah itu mereka membuka atap. Lalu mereka mengulur tali itu dan menurunkan orang lumpuh itu perlahan-lahan ke lantai dasar.

Pasti susah. Pasti harus berhati-hati dan seimbang. Apa jadinya kalau salah satu utas tali itu terlalu cepat turun, pasti tilam itu miring dan kalau salah satu utas tali itu tiba-tiba putus. Tetapi ternyata mereka berhasil. Hebat! Lalu apa reaksi Tuhan Yesus? Ternyata Ia bisa menerima gangguan itu. Yesus memuji iman mereka. Siapakah mereka dalam konteks ini? Itulah kawan-kawan orang lumpuh itu. Yesus menilai perbuatan mereka sebagai perbuatan iman.

Sungguh beruntung orang itu. Ia mempunyai kawan-kawan yang menggotong dia memberi semangat dan pengharapan. Hidup terasa bermakna lagi. Tanpa kawan-kawan ini, orang lumpuh itu hanya bisa terkulai seorang diri di rumah. Itulah indahnya persahabatan. Bersikap sebagai sahabat adalah karunia tersendiri. Seorang sahabat adalah dia yang mampu menerima kita apa adanya, kelemahan sekaligus keunggulan kita. Jadilah seorang sahabat.

Hitunglah berkatmu dengan senyum, bukan dengan air mata. Hitunglah usiamu dengan teman, bukan tahun. (Anonim)

Perasaan Manusia

3 November 2010
Bacaan : Filipi 2 : 1-11
”Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”
Filipi 2:5

Manusia adalah makhluh yang diciptakan oleh Tuhan dengan perasaan. Kita bisa merasakan sedih, marah, cinta, sakit hati, tersinggung dan lainnya. Karena kita memiliki perasaan dan sebenarnya masalah dasar dari manusia adalah perasaan-perasaan ini. Saat kita tidak disapa orang kita jadi tersinggung, itu perasaan. Saat kita menyukai seseorang, itu perasaan. Dan saat kehilangan seseorang, kita sedih dan itu juga perasaan. Seorang pendeta dari mengatakan, ”Seandainya Tuhan menciptakan manusia tanpa perasaan maka hidup sepertinya akan jadi lebih mudah. Manusia akan menjadi seperti robot.” Robot tidak memiliki perasaan, dia tidak akan tersinggung saat tidak disapa, dia tidak akan sakit hati saat dibohongi, tidak pernah merasakan cinta sehingga tidak akan pernah merasa sakit karena cintanya ditolak. Begitu simple hidupnya, namun apa jadinya kita, manusia, jika diciptakan seperti itu? Tuhan tidak akan pernah bisa mengasihi kita dan begitu pula sebaliknya.

Saat Tuhan di bumi ini, Dia juga hidup sebagai manusia utuh, yang memiliki perasaan, namun Dia tidak menjadi sakit hati, menyimpan akar pahit walau Dia juga mengalami penghinaan. Kita memang tidak tahu itu dengan pasti, tapi yang pasti Tuhan Yesus tidak menuruti perasaan dan emosinya, Dia patuh pada kehendak BapaNya. Firman Tuhan mencatat, Dia dicobai dan Dia tidak pernah berdosa (Ibr 4:15). Inilah kuncinya, tundukkan perasaan kita pada Kristus, pakailah perasaan dan emosi ilahi. Firman Tuhan mengatakan kita boleh marah, namun jangan sampai saat matahari terbenam kita masih tetap marah. Jangan akar pahit itu kita simpan, bahkan Firman mengajarkan kasihilah musuh kita. Inilah jenis emosi dan perasaan yang harus kita miliki saat kita menjadi anak Tuhan.

Trust God’s Word. Don’t trust your emotions. Don’t trust your opinions. (Max Lucado) 

Tuhan Mampu

2 November 2010
Bacaan : Efesus 3 : 14-21
“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan…”
Efesus 3 : 20

Ketika berbagai kesukaran hidup tampak begitu menakutkan dan berbagai masalah tampak semakin membesar, kita pun mulai goyah. Karena kita memusatkan perhatian pada berbagai persoalan kita, sehingga seolah-olah Tuhan menghilang di balik masalah kita. Pada saat-saat seperti itu kita perlu mengingatkan diri kita mengenai gambaran luar biasa yang dituliskan Rasul Paulus tentang apa yang dapat Tuhan lakukan.

Efesus 3:20 menjelaskan pada kita bahwa Tuhan mampu melakukan… apa yang kuminta … semua yang kuminta … apa yang kupikirkan … semua yang kupikirkan … lebih dari semua yang kupikirkan … lebih banyak sampai tak terhingga dari semua yang kuminta atau pikirkan.

Paulus ingin memberi tahu kita bagaimana cara Tuhan melakukan semuanya. Tuhan melakukannya ”dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Kuasa itu adalah kuasa kebangkitan. Kuasa yang membangkitkan Yesus dari kematian dan kuasa Yesus ”yang tidak dapat binasa” (Ibrani 7:16).

Kuasa Tuhan bukan sekedar kemampuan abstrak yang disediakan-Nya untuk menciptakan planet, bintang, dan seluruh semesta. Dia juga sanggup berkarya dalam diri kita, anak-anakNya. Ya, kuasa-Nya tinggal dalam diri kita dan bekerja dari dalam diri kita. Jadi hadapi masalah Anda dengan kuasa kebangkitan Kristus. Karena bahkan maut pun sudah Tuhan Yesus kalahkan dan Tuhan yang Maha Besar ini siap menggunakan kuasa-Nya dalam kehidupan Anda.

Seorang yang bersama Tuhan selalu ada dalam mayoritas. (Pepatah Jenewa)

Pilihan Yang Benar

1 November 2010
Bacaan : Ulangan 30 : 15-20
”Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.”
II Petrus 1:10

Pilihan yang kita buat hari ini akan menentukan masa yang akan datang. Seorang arsitek dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi hamba Tuhan, dalam ketidak mengertiannya, beliau memenuhi panggilannya tersebut sehingga saat ini beliau menjadi pendeta, membangun sebuah gereja yang jemaatnya terus mengalami pertumbuhan. Kalau dulu beliau tidak menanggapi panggilan Tuhan, apa yang akan terjadi? Ke manakah semua jemaatnya saat ini akan berjemaat?

Seorang ayah sedang mengalami panggilan Tuhan, beliau mengalami proses begitu rupa sehingga anaknya sakit dan ia tidak memiliki apa-apa lagi kecuali bergantung pada Tuhan. Saat sang ayah memenuhi panggilan Tuhan, ia pun melihat tangan Tuhan bekerja begitu rupa. Sekarang, sang anak telah bertumbuh dan menjadi pelayan Tuhan. Kalau sang ayah tidak memenuhi panggilannya di dalam Tuhan, apa yang akan terjadi?

Kita memang diperhadapkan pada pilihan dan saat kita salah memilih, hal itu akan mendatangkan konsekuensi yang mungkin tidak mengenakkan bagi kita atau bahkan menyakiti pihak lain. Tuhan  tidak pernah memaksa kita dan memutuskan segala hal untuk kita, namun Ia sering mengarahkan kita ke jalan yang benar sesuai dengan kehendakNya.

Saat kita salah memilih pekerjaan, kita masih bisa keluar dan kerja di tempat yang baru; saat salah jalan, kita masih bisa memutar; Saat salah membeli mungkin juga masih bisa dikembalikan. Namun semua kesalahan itu telah memakan waktu kita. Sedangkan waktu tidak dapat diputar kembali. Jadi, marilah kita bersikap bijaksana, bertanya kepada Tuhan untuk setiap keputusan yang kita ambil dalam kehidupan kita agar kita tidak perlu membuang waktu.

Life is the art of drawing without an eraser. (John Christian)

YOU HAVE WON!!!

31 Oktober 2010
Bacaan : Matius 6 : 25-34
“This is the victory overcoming the world, our faith.”
1 John 5 : 4

Lambat namun pasti semua harga barang-barang kebutuhan pokok melonjak naik, saat pemerintah menetapkan kenaikan tariff listrik, sehingga memberikan dampak terhadap segala bidang kehidupan. Karena harga barang pokok naik maka baju, makanan dan kebutuhan lainnya juga ikut naik. Hal ini menyebabkan kekhawatiran tersendiri bagi pelaku kehidupan, dan menyebar mulai dari ibu rumah tangga, pekerja kantoran dan orang tua yang memikirkan biaya dan kebutuhan sekolah anak.

Kekuatiran membuat kita kehilangan kekuatan untuk menghadapi kehidupan yang sedang kita jalani. Bukankah dengan kekhawatiran ini sebenarnya kita sedang menyangkali kekuatan Tuhan dan meragukan kemampuanNya dalam menjaga dan memenuhi kebutuhan kita? Di mana iman dan kepercayaan kita? Jika kita mengaku percaya kepada Tuhan tapi selalu mengkhawatirkan segala hal tentang kehidupan, maka bukankah sama saja dengan mengatakan bahwa kita tidak percaya pada Tuhan?

Kehidupan yang harus kita jalani di dunia ini memang tidak pernah mulus bagai jalan tol, melainkan jalan sempit yang penuh dengan tikungan tajam dan kadang berbatu. Karena itu jika kita tidak mempunyai iman bahwa ada masa depan yang cerah bagi setiap orang percaya, maka kita tidak akan mempunyai kekuatan untuk menjalani hari ini. Keadaan sekitar kita boleh dilanda badai, harga boleh melonjak tinggi namun jangan sampai semua itu membuat kita kehilangan pegangan hidup dan iman kita padaNya. Percayalah! Dengan iman kita pasti bisa mengalahkan apa yang ada di dunia ini, karena Tuhan pasti membukakan jalan.

If you have no faith in the future, then you have no power in the present. If you have no faith in the life beyond this life, then your present life is going to be powerless. But if you believe in the future and are assured of victory, then there should be a dance in your step and a smile on your face. (Max Lucado)

Menyenangkan Siapa?

30 Oktober 2010
Bacaan : Galatia 1 : 1-20
"Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari  kesukaan manusia atau kesukaan Tuhan? adakah kucoba berkenan kepada manusia? sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepaad manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus."
Galatia 1:10
 
"Menyenangkan Tuhan atau menyenangkan manusia?" Pertanyaan ini kadang muncul di pikiran saat kita diperhadapkan pada sebuah situasi harus mengambil keputusan. Karena kadang-kadang, kita tidak bisa menyenangkan manusia sekaligus menyenangkan Tuhan. Misalnya, pimpinan meminta kita berbohong saat dia tidak mau menerima telepon istrinya. Apa yang kita perbuat? Jika patuh padanya dan berbohong maka kita akan menyukakan hatinya namun tidak menyukakan Tuhan.
Petrus dan Yohanes juga pernah mengalami situasi harus mengambil keputusan apakah mereka akan mentaati kehendak Tuhan atau melakukan apa yang benar di mata manusia. Dalam Kisah Para Rasul 4:19-20, dikatakan “Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Tuhan: taat kepada kamu atau taat kepada Tuhan. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Mereka memutuskan untuk tetap menyuarakan kebenaran.
Ketaatan dan kerendahan hati untuk menyenangkan hati Tuhan, merupakan tolok ukur dari kasih kita kepadaNya. Oleh karena itu, jika saat ini kita akan mengambil keputusan, maka kita harus memutuskan untuk menyenangkan hati Tuhan meskipun risikonya kita tidak disukai manusia. Kita harus ingat firmanNya yang berkata: “Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itu pun didamaikan-Nya dengan dia.” (Amsal 16:7). Tidak ada hatiyang terlalu keras untuk dilembutkan olehNya. Jadi kalau kita berkenan di hadapan Tuhan, maka Tuhan mempunyai kuasa untuk mengubah hati orang lain agar memahami keputusan kita.
Bagi orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan dan dengan tekun mencari kehendakNya, apapun yang Tuhan berikan akan menjadi yang terbaik. (Meister Eckhart)

Pekerjaan Yang Berkenan

29 Oktober 2010
Bacaan : Matius 7 : 15-23
”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”
Matius 7:21

Seseorang sedang melakukan pelayanan yang luar biasa, menyembuhkan banyak orang, menghardik keluar roh-roh jahat dan mengabarkan Injil demi nama Tuhan. Orang ini menyerukan nama Tuhan dimanapun ia berada. Namun pada saat penghakiman terakhir, Tuhan berkata ”Aku tidak mengenalmu!” Saya tidak bisa membayangkan orang itu adalah saya, karena sudah membuang begitu banyak waktu, tenaga dan uang untuk melakukan sebuah pekerjaan yang kita pikir untuk Tuhan, namun pada akhirnya justru kita tidak diterima oleh Tuhan. Bahkan tidak ada satu pun pekerjaan yang berkenan dan akhirnya kita dicampakkan ke dalam kegelapan yang penuh dengan kertak gigi. Kemudian apa yang harus kita lakukan? Apakah berarti kita  tidak boleh melakukan pelayanan? Tentu tidak demikian, sebab Tuhan menginginkan kita melakukan segala sesutu yang menjadi kehendakNya, bukan hanya berseru-seru nama Tuhan di mulut, namun hatinya seperti kuburan yang dilabur putih.

Setiap hal yang kita lakukan, harus dipastikan bahwa kita melakukannya untuk Tuhan, tidak ada sisi keuntungan pribadi dan mencuri kemuliaan Tuhan. Karena Tuhan tidak bisa ditipu, Ia melihat hingga kedalaman hati kita. Mungkin kita bisa sembunyikan sesuatu dari orang lain, tapi tidak dari Tuhan, karena Ia melihat dan mendengar dengan jelas apa yang ada dalam hati ini. Jadi jika kita sekarang melakukan pelayanan namun hidup kita tidak fokus dan berkenan kepada Tuhan, maka ada baiknya kita berhenti sesaat, mengoreksi hati dan dduk diam untuk mendengarkan apa yang Ia mau dari hidup kita. Jangan sampai apa yang kita lakukan itu adalah hal yang sia-sia seperti sebuah bangunan yang dibangun di atas pasir atau yang tidak tahan uji oleh api.

Nothing is of greater importance than loving God! If we fail to take this seriously, we may find at the end of our lives that all of our works counted for nothing…(However) He wants us to be before we do. Love first!!(Kent Hughes)

Melakukan Kehendak Tuhan di Zaman Kita

28 Oktober 2010
Bacaan : Kisah Para Rasul 13 : 26-36
”Setelah Saul disingkirkan, Tuhan mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Tuhan telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hatiKu dan melakukan segala kehendakKu.”
Kisah Para Rasul 13 : 22

Daud adalah orang yang melakukan kehendak Tuhan dalam jamannya, sedangkan kita mempunyai tanggung jawab untuk melakukan kehendak Tuhan di jaman kita sendiri. Sebagai pelayan Tuhan, kita dapat belajar dari surat Timotius untuk tetap setia dalam melakukan kehendak Tuhan.

Untuk dapat bertahan dan setia, Rasul Paulus memberikan contoh tiga profesi antara lain: contoh pertama adalah Prajurit, seorang prajurit dituntut patuh 100% pada perintah komandannya, karena itu kita juga harus mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Bapa yang menjadi Komandan kita. Seorang prajurit juga tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, demikian pula kita tidak memusingkan diri karena percaya bahwa Bapa di surga memelihara hidup kita. Kedua Olahragawan, seorang olahragawan harus mendisiplin dan menguasai dirinya. Ketika bertanding, ia harus fokus pada garis akhir. Demikian pula sebagai pelayan Tuhan, kita harus menguasai diri dalam segala hal agar tetap berkenan pada Tuhan. Kita bekerja dengan fokus untuk Tuhan, sehingga kita tidak mudah mengalami kepahitan ketika ada gesekan dengan sesama.

Contoh ketiga adalah Petani, seorang petani pasti memiliki kesabaran dalam mencangkul, membajak, menanam dan mencabut ilalang. Ia juga harus sabar menunggu datangnya musim panen dan ia pun membutuhkan iman karena tidak semua yang ditanam dapat dituai. Bisa saja ia mengalami gagal panen karena cuaca yang tidak menentu ataupun dimakan hama. Demikian juga kita harus bekerja keras, sabar dan beriman dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Mungkin saat ini, kita tidak melihat hasil dari apa yang telah kita kerjakan. Tapi percaya dengan iman, suatu saat kita ataupun orang lain akan menuai dari apa yang telah kita kerjakan.

Jangan berbicara tentang kekalahan, tetapi berbicaralah tentang harapan, keyakinan, kepercayaan dan kemenangan. (Norman Vincent P)

Our God is The True God

27 Oktober 2010
Bacaan : Mazmur 115 : 3-15
“Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.”
Mazmur 138 : 3

Pernahkan kita merenungkan bahwa Tuhan yang kita sembah itu berbeda dari tuhan yang lain? Jika Alkitab menceritakan bahwa Baal atau sesembahan bangsa lain dalam Alkitab terbuat dari perak, emas dan lainnya, maka tidak dengan Tuhan kita. Firman Tuhan tidak pernah mencatat, Tuhan diciptakan dan terbuat dari sesuatu dan tidak ada yang berani mengatakan “I am the way and truth” selain TUHAN kita. Saat kita merenungkan ini seharusnya kita menyadari bahwa Tuhan kita memang berbeda dengan tuhan yang lain, Dia Tuhan yang mau mendengar seruan anakNya. Kitab Mazmur mengatakan Dia bukan Tuhan yang tuli, yang tidak mau menjawab. Dia juga bukan Tuhan yang tidak menyertai sebab di setiap jalan yang kita tempuh Dia selalu ada.

Jika saat ini kita mempertanyakan atau menyangkal keberadaan Tuhan karena sedang dilanda begitu banyak masalah atau karena ada pengajaran lain yang rasanya “lebih benar”; maka saatnya bagi kita untuk bangun. Tuhan tidaklah mati dan diam di kubur, Dia sudah bangkit pada hari ketiga. Jadi, apapun yang terjadi, percaya dan yakinlah bahwa Tuhan yang kita sembah itu adalah Tuhan yang benar, Tuhan yang hidup. Dialah Tuhan yang menciptakan semesta alam dan memiliki semuanya baik di bumi dan di surga.

Karena itu jika saat ini kita sedang lemah, maka sudah waktunya bagi kita untuk menguatkan iman kita padaNya, jangan lari dan jangan berbalik arah. Ingatlah waktu yang ada tinggal sedikit, kejarlah kebenaran dan yakinlah dengan segenap hati bahwa Dialah Tuhan yang benar.

A just-God Jesus could make us but not understand us. A just-man Jesus could love us but never save us. But a God-man Jesus? Near enough to touch. String enough to trust. (Max Lucado)

Kupu-kupu Yang Tidak Pernah Terbang


26 Oktober 2010
Bacaan : Ibrani 12:5-9
”Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.”
Ibrani 12:8

Seorang pria duduk dan mengamati sebuah kepompong yang mulai berlubang kecil. Calon kupu-kupu di dalamnya tampak berjuang keras berjam-jam untuk mendorong tubuhnya keluar melalui celah kecil. Sepertinya usaha tersebut sia-sia, tidak ada perkembangan yang berarti. Kemudian pria tersebut memutuskan untuk membantu si kupu-kupu. Ia mengambil gunting dan membuka kepompong, sehingga kupu-kupu itu keluar dengan sangat mudah. Namun, apa yang terjadi? Kupu-kupu itu memiliki tubuh yang tidak sempurna, sayap yang tidak terbuka dan kupu-kupu itu harus merayap seumur hidupnya dengan tubuh yang lemah. Pria itu tak mengerti bahwa saat seekkor calon kupu-kupu berjuang keluar dari kepompong, ia akan mengeluarkan seluruh cairan dari tubuhnya yang membuat sayapnya berkembang dan siap terbang begitu keluar dari kepompong.

Setiap orang yang mendapatkan kesuksesan melewati suatu proses akan memiliki kepribadian yang teruji. Tentu kepribadiannya berbeda ”orang kaya baru”. Yang kesuksesannya diperoleh dengan cara mudah. Orang yng diproses dan dibentuk Tuhan melalui keadaan, situasi, dan oran-orang di sekeliling akan mengeluarkan karakter unggul yang membuatnya layak menyandang semua keberhasilan dan kesuksesan. Pada saat orang tersebut berhasil, ia tahu bagaimana harus bermpati pada orang lain, bagaimana harus menyelesaikan sebuah masalah dengana bijak tanpa menyalahkan orang lain. Bahkan ia sadar bahwa tangan Tuhanlah yang menjadi alasan utama keberhasilannya.

Hargailah setiap proses kehidupan Anda, entahitu dalam hal keuangan, kesehatan, keluargaa, pasangan hidup, atau apapun juga. Jalanilah dengan Tuhan, kuatkan dan teguhkanlah hati sebab Tuhan berjalan bersama Anda.

Siapakah yang mengharapkan banyak rintangan dan kesulitan? Tuhan memimpin kita untuk bertahan dalam semua kesulitan, bukan untuk mencintainya. (Agustinus dari Hippo)

Kembali pada Panggilan Kita


25 Oktober 2010
Bacaan : 1 Petrus 2 : 9-10
”Tetapi kamulah bangsa yang terpillih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Tuhan sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”
1 Petrus 2 : 9

Sebagai orang percaya kita mempunyai tanggung jawab yang besar karena kita adalah orang yang terpilih. Sebagai orang yang terpilih, kita dituntut supaya kita berbeda dengan orang lain. Perbedaan itu terletak dalam fakta bahwa hidupnya didedikasikan pada kehendak Tuhan dan pelayanan karena ia adalah milik Tuhan. Kita dipilih bukan untuk melakukan apa yang kita inginkan tetapi untuk melakukan apa yang Tuhan inginkan. Sebutan bangsa yang terpilih dulu hanya diberikan kepada bangsa Israel, namun sekarang sebutan tersebut diberikan kepada gereja Tuhan dan kita semua adalah bangsa yang terpilih.

Sebagai umat pilihan dan tebusan Tuhan, kita mempunyai tugas untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Tuhan yaitu untuk memberitakan perbuatan-perbuatanNya yang besar (Ef 2:10). Berita tentang perbuatan Tuhan yang besar (keselamatan, kesembuhan, kemakmuran, dll) adalah kabar baik bagi semua orang. Kita harus memberitakan bagaimana Tuhan bekerja pada masa lampau maupun sekarang melalui kesaksian hidup kita.

Karena kita sudah mengetahui status kita yang tinggi yaitu sebagai anggota Kerajaan Tuhan, jadi kita harus benar-benar menjaga perilaku dan perkataan kita. Anggota kerajaan dunia saja, misalkan keluarga kerajaan Inggris, pasti tidak akan bersikap seperti rakyat biasa. Mereka berbicara dengan santun, makan dengan aturan bangsawan, dan mereka hidup dengan banyak sekali aturan. Sebagai anggota kerajaan Tuhan, hidup kita harus mengikuti peraturan yaitu firman Tuhan. Inilah yang membedakan kita sebagai anak kerajaanNya. Selain itu supaya kita bisa menjadi saksiNya yang hidup, kita harus mengerjakan apa yang menjadi panggilan kita.

Yesus memanggil kita bukan hanya untuk datang kepada Dia, tetapi untuk pergi bagi Dia. (Rick Warren)

Menahan Diri

24 Oktober 2010
Bacaan : Matius 15 : 11-20
“Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik…”
Lukas 6 : 45

Dalam hidup bermasyarakat, kita tidak mungkin terlepas dari berita atau kisah hidup seseorang. Saat ada kejadian, mungkin kita bertanya, ”Ada apa sih?”, meskipun sebenarnya hal itu tidak ada hubungannya dengan kita. Setelah kita mendapatkan cerita dari seseorang yang mengetahui berita itu, biasanya kita akan menceritakan ke orang lain dan pada akhirnya berita pun tersebar. Namun masalahnya adalah cerita tersebut belum tentu sama dengan versi yang sesungguhnya.

Sama seperti permainan menyampaikan kata, jika ada 10 orang berdiri dalam sebuah barisan, maka orang pertama diberi informasi dan dia harus menyampaikan informasi itu ke teman berikutnya, begitu seterusnya hingga orang yang ke sepuluh. Percaya atau tidak, kalimat itu pasti tidak akan persis dengan kalimat yang diucapkan orang yang pertama. Demmikian pula saat kita mendengar cerita atau kabar tidak sedap tentang orang lain, yang belum tentu kebenarannya, apa yang kita lakukan? Kita akan menyimpannya sendiri atau akan meneruskannya pada orang lain? Semuanya itu tergantung pada kita. Namun satu hal yang perlu kita ingat, kita tidak tahu seberapa jauh kebenaran dari cerita tersebut. Mungkin saja orang yang bercerita pada kita memiliki dendam pribadi pada orang yang sedang ia bicarakan.

Satu hal yang Tuhan ingatkan, apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Jadi, kita harus berhati-hati terhadap mulut kita, agar apa yang keluar adalah berkat bukan kutuk. Kita harus belajar menahan diri terhadap segala berita buruk tentang orang lain dan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan kebenaran firman Tuhan.

When you are offered a morsel of gossip marinated in slander, do you turn it down or pass ot on? That depends on the state of your heart. (Max Lucado)