YOU HAVE WON!!!

31 Oktober 2010
Bacaan : Matius 6 : 25-34
“This is the victory overcoming the world, our faith.”
1 John 5 : 4

Lambat namun pasti semua harga barang-barang kebutuhan pokok melonjak naik, saat pemerintah menetapkan kenaikan tariff listrik, sehingga memberikan dampak terhadap segala bidang kehidupan. Karena harga barang pokok naik maka baju, makanan dan kebutuhan lainnya juga ikut naik. Hal ini menyebabkan kekhawatiran tersendiri bagi pelaku kehidupan, dan menyebar mulai dari ibu rumah tangga, pekerja kantoran dan orang tua yang memikirkan biaya dan kebutuhan sekolah anak.

Kekuatiran membuat kita kehilangan kekuatan untuk menghadapi kehidupan yang sedang kita jalani. Bukankah dengan kekhawatiran ini sebenarnya kita sedang menyangkali kekuatan Tuhan dan meragukan kemampuanNya dalam menjaga dan memenuhi kebutuhan kita? Di mana iman dan kepercayaan kita? Jika kita mengaku percaya kepada Tuhan tapi selalu mengkhawatirkan segala hal tentang kehidupan, maka bukankah sama saja dengan mengatakan bahwa kita tidak percaya pada Tuhan?

Kehidupan yang harus kita jalani di dunia ini memang tidak pernah mulus bagai jalan tol, melainkan jalan sempit yang penuh dengan tikungan tajam dan kadang berbatu. Karena itu jika kita tidak mempunyai iman bahwa ada masa depan yang cerah bagi setiap orang percaya, maka kita tidak akan mempunyai kekuatan untuk menjalani hari ini. Keadaan sekitar kita boleh dilanda badai, harga boleh melonjak tinggi namun jangan sampai semua itu membuat kita kehilangan pegangan hidup dan iman kita padaNya. Percayalah! Dengan iman kita pasti bisa mengalahkan apa yang ada di dunia ini, karena Tuhan pasti membukakan jalan.

If you have no faith in the future, then you have no power in the present. If you have no faith in the life beyond this life, then your present life is going to be powerless. But if you believe in the future and are assured of victory, then there should be a dance in your step and a smile on your face. (Max Lucado)

Menyenangkan Siapa?

30 Oktober 2010
Bacaan : Galatia 1 : 1-20
"Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari  kesukaan manusia atau kesukaan Tuhan? adakah kucoba berkenan kepada manusia? sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepaad manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus."
Galatia 1:10
 
"Menyenangkan Tuhan atau menyenangkan manusia?" Pertanyaan ini kadang muncul di pikiran saat kita diperhadapkan pada sebuah situasi harus mengambil keputusan. Karena kadang-kadang, kita tidak bisa menyenangkan manusia sekaligus menyenangkan Tuhan. Misalnya, pimpinan meminta kita berbohong saat dia tidak mau menerima telepon istrinya. Apa yang kita perbuat? Jika patuh padanya dan berbohong maka kita akan menyukakan hatinya namun tidak menyukakan Tuhan.
Petrus dan Yohanes juga pernah mengalami situasi harus mengambil keputusan apakah mereka akan mentaati kehendak Tuhan atau melakukan apa yang benar di mata manusia. Dalam Kisah Para Rasul 4:19-20, dikatakan “Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Tuhan: taat kepada kamu atau taat kepada Tuhan. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Mereka memutuskan untuk tetap menyuarakan kebenaran.
Ketaatan dan kerendahan hati untuk menyenangkan hati Tuhan, merupakan tolok ukur dari kasih kita kepadaNya. Oleh karena itu, jika saat ini kita akan mengambil keputusan, maka kita harus memutuskan untuk menyenangkan hati Tuhan meskipun risikonya kita tidak disukai manusia. Kita harus ingat firmanNya yang berkata: “Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itu pun didamaikan-Nya dengan dia.” (Amsal 16:7). Tidak ada hatiyang terlalu keras untuk dilembutkan olehNya. Jadi kalau kita berkenan di hadapan Tuhan, maka Tuhan mempunyai kuasa untuk mengubah hati orang lain agar memahami keputusan kita.
Bagi orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan dan dengan tekun mencari kehendakNya, apapun yang Tuhan berikan akan menjadi yang terbaik. (Meister Eckhart)

Pekerjaan Yang Berkenan

29 Oktober 2010
Bacaan : Matius 7 : 15-23
”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”
Matius 7:21

Seseorang sedang melakukan pelayanan yang luar biasa, menyembuhkan banyak orang, menghardik keluar roh-roh jahat dan mengabarkan Injil demi nama Tuhan. Orang ini menyerukan nama Tuhan dimanapun ia berada. Namun pada saat penghakiman terakhir, Tuhan berkata ”Aku tidak mengenalmu!” Saya tidak bisa membayangkan orang itu adalah saya, karena sudah membuang begitu banyak waktu, tenaga dan uang untuk melakukan sebuah pekerjaan yang kita pikir untuk Tuhan, namun pada akhirnya justru kita tidak diterima oleh Tuhan. Bahkan tidak ada satu pun pekerjaan yang berkenan dan akhirnya kita dicampakkan ke dalam kegelapan yang penuh dengan kertak gigi. Kemudian apa yang harus kita lakukan? Apakah berarti kita  tidak boleh melakukan pelayanan? Tentu tidak demikian, sebab Tuhan menginginkan kita melakukan segala sesutu yang menjadi kehendakNya, bukan hanya berseru-seru nama Tuhan di mulut, namun hatinya seperti kuburan yang dilabur putih.

Setiap hal yang kita lakukan, harus dipastikan bahwa kita melakukannya untuk Tuhan, tidak ada sisi keuntungan pribadi dan mencuri kemuliaan Tuhan. Karena Tuhan tidak bisa ditipu, Ia melihat hingga kedalaman hati kita. Mungkin kita bisa sembunyikan sesuatu dari orang lain, tapi tidak dari Tuhan, karena Ia melihat dan mendengar dengan jelas apa yang ada dalam hati ini. Jadi jika kita sekarang melakukan pelayanan namun hidup kita tidak fokus dan berkenan kepada Tuhan, maka ada baiknya kita berhenti sesaat, mengoreksi hati dan dduk diam untuk mendengarkan apa yang Ia mau dari hidup kita. Jangan sampai apa yang kita lakukan itu adalah hal yang sia-sia seperti sebuah bangunan yang dibangun di atas pasir atau yang tidak tahan uji oleh api.

Nothing is of greater importance than loving God! If we fail to take this seriously, we may find at the end of our lives that all of our works counted for nothing…(However) He wants us to be before we do. Love first!!(Kent Hughes)

Melakukan Kehendak Tuhan di Zaman Kita

28 Oktober 2010
Bacaan : Kisah Para Rasul 13 : 26-36
”Setelah Saul disingkirkan, Tuhan mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Tuhan telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hatiKu dan melakukan segala kehendakKu.”
Kisah Para Rasul 13 : 22

Daud adalah orang yang melakukan kehendak Tuhan dalam jamannya, sedangkan kita mempunyai tanggung jawab untuk melakukan kehendak Tuhan di jaman kita sendiri. Sebagai pelayan Tuhan, kita dapat belajar dari surat Timotius untuk tetap setia dalam melakukan kehendak Tuhan.

Untuk dapat bertahan dan setia, Rasul Paulus memberikan contoh tiga profesi antara lain: contoh pertama adalah Prajurit, seorang prajurit dituntut patuh 100% pada perintah komandannya, karena itu kita juga harus mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Bapa yang menjadi Komandan kita. Seorang prajurit juga tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, demikian pula kita tidak memusingkan diri karena percaya bahwa Bapa di surga memelihara hidup kita. Kedua Olahragawan, seorang olahragawan harus mendisiplin dan menguasai dirinya. Ketika bertanding, ia harus fokus pada garis akhir. Demikian pula sebagai pelayan Tuhan, kita harus menguasai diri dalam segala hal agar tetap berkenan pada Tuhan. Kita bekerja dengan fokus untuk Tuhan, sehingga kita tidak mudah mengalami kepahitan ketika ada gesekan dengan sesama.

Contoh ketiga adalah Petani, seorang petani pasti memiliki kesabaran dalam mencangkul, membajak, menanam dan mencabut ilalang. Ia juga harus sabar menunggu datangnya musim panen dan ia pun membutuhkan iman karena tidak semua yang ditanam dapat dituai. Bisa saja ia mengalami gagal panen karena cuaca yang tidak menentu ataupun dimakan hama. Demikian juga kita harus bekerja keras, sabar dan beriman dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Mungkin saat ini, kita tidak melihat hasil dari apa yang telah kita kerjakan. Tapi percaya dengan iman, suatu saat kita ataupun orang lain akan menuai dari apa yang telah kita kerjakan.

Jangan berbicara tentang kekalahan, tetapi berbicaralah tentang harapan, keyakinan, kepercayaan dan kemenangan. (Norman Vincent P)

Our God is The True God

27 Oktober 2010
Bacaan : Mazmur 115 : 3-15
“Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.”
Mazmur 138 : 3

Pernahkan kita merenungkan bahwa Tuhan yang kita sembah itu berbeda dari tuhan yang lain? Jika Alkitab menceritakan bahwa Baal atau sesembahan bangsa lain dalam Alkitab terbuat dari perak, emas dan lainnya, maka tidak dengan Tuhan kita. Firman Tuhan tidak pernah mencatat, Tuhan diciptakan dan terbuat dari sesuatu dan tidak ada yang berani mengatakan “I am the way and truth” selain TUHAN kita. Saat kita merenungkan ini seharusnya kita menyadari bahwa Tuhan kita memang berbeda dengan tuhan yang lain, Dia Tuhan yang mau mendengar seruan anakNya. Kitab Mazmur mengatakan Dia bukan Tuhan yang tuli, yang tidak mau menjawab. Dia juga bukan Tuhan yang tidak menyertai sebab di setiap jalan yang kita tempuh Dia selalu ada.

Jika saat ini kita mempertanyakan atau menyangkal keberadaan Tuhan karena sedang dilanda begitu banyak masalah atau karena ada pengajaran lain yang rasanya “lebih benar”; maka saatnya bagi kita untuk bangun. Tuhan tidaklah mati dan diam di kubur, Dia sudah bangkit pada hari ketiga. Jadi, apapun yang terjadi, percaya dan yakinlah bahwa Tuhan yang kita sembah itu adalah Tuhan yang benar, Tuhan yang hidup. Dialah Tuhan yang menciptakan semesta alam dan memiliki semuanya baik di bumi dan di surga.

Karena itu jika saat ini kita sedang lemah, maka sudah waktunya bagi kita untuk menguatkan iman kita padaNya, jangan lari dan jangan berbalik arah. Ingatlah waktu yang ada tinggal sedikit, kejarlah kebenaran dan yakinlah dengan segenap hati bahwa Dialah Tuhan yang benar.

A just-God Jesus could make us but not understand us. A just-man Jesus could love us but never save us. But a God-man Jesus? Near enough to touch. String enough to trust. (Max Lucado)

Kupu-kupu Yang Tidak Pernah Terbang


26 Oktober 2010
Bacaan : Ibrani 12:5-9
”Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.”
Ibrani 12:8

Seorang pria duduk dan mengamati sebuah kepompong yang mulai berlubang kecil. Calon kupu-kupu di dalamnya tampak berjuang keras berjam-jam untuk mendorong tubuhnya keluar melalui celah kecil. Sepertinya usaha tersebut sia-sia, tidak ada perkembangan yang berarti. Kemudian pria tersebut memutuskan untuk membantu si kupu-kupu. Ia mengambil gunting dan membuka kepompong, sehingga kupu-kupu itu keluar dengan sangat mudah. Namun, apa yang terjadi? Kupu-kupu itu memiliki tubuh yang tidak sempurna, sayap yang tidak terbuka dan kupu-kupu itu harus merayap seumur hidupnya dengan tubuh yang lemah. Pria itu tak mengerti bahwa saat seekkor calon kupu-kupu berjuang keluar dari kepompong, ia akan mengeluarkan seluruh cairan dari tubuhnya yang membuat sayapnya berkembang dan siap terbang begitu keluar dari kepompong.

Setiap orang yang mendapatkan kesuksesan melewati suatu proses akan memiliki kepribadian yang teruji. Tentu kepribadiannya berbeda ”orang kaya baru”. Yang kesuksesannya diperoleh dengan cara mudah. Orang yng diproses dan dibentuk Tuhan melalui keadaan, situasi, dan oran-orang di sekeliling akan mengeluarkan karakter unggul yang membuatnya layak menyandang semua keberhasilan dan kesuksesan. Pada saat orang tersebut berhasil, ia tahu bagaimana harus bermpati pada orang lain, bagaimana harus menyelesaikan sebuah masalah dengana bijak tanpa menyalahkan orang lain. Bahkan ia sadar bahwa tangan Tuhanlah yang menjadi alasan utama keberhasilannya.

Hargailah setiap proses kehidupan Anda, entahitu dalam hal keuangan, kesehatan, keluargaa, pasangan hidup, atau apapun juga. Jalanilah dengan Tuhan, kuatkan dan teguhkanlah hati sebab Tuhan berjalan bersama Anda.

Siapakah yang mengharapkan banyak rintangan dan kesulitan? Tuhan memimpin kita untuk bertahan dalam semua kesulitan, bukan untuk mencintainya. (Agustinus dari Hippo)

Kembali pada Panggilan Kita


25 Oktober 2010
Bacaan : 1 Petrus 2 : 9-10
”Tetapi kamulah bangsa yang terpillih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Tuhan sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”
1 Petrus 2 : 9

Sebagai orang percaya kita mempunyai tanggung jawab yang besar karena kita adalah orang yang terpilih. Sebagai orang yang terpilih, kita dituntut supaya kita berbeda dengan orang lain. Perbedaan itu terletak dalam fakta bahwa hidupnya didedikasikan pada kehendak Tuhan dan pelayanan karena ia adalah milik Tuhan. Kita dipilih bukan untuk melakukan apa yang kita inginkan tetapi untuk melakukan apa yang Tuhan inginkan. Sebutan bangsa yang terpilih dulu hanya diberikan kepada bangsa Israel, namun sekarang sebutan tersebut diberikan kepada gereja Tuhan dan kita semua adalah bangsa yang terpilih.

Sebagai umat pilihan dan tebusan Tuhan, kita mempunyai tugas untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Tuhan yaitu untuk memberitakan perbuatan-perbuatanNya yang besar (Ef 2:10). Berita tentang perbuatan Tuhan yang besar (keselamatan, kesembuhan, kemakmuran, dll) adalah kabar baik bagi semua orang. Kita harus memberitakan bagaimana Tuhan bekerja pada masa lampau maupun sekarang melalui kesaksian hidup kita.

Karena kita sudah mengetahui status kita yang tinggi yaitu sebagai anggota Kerajaan Tuhan, jadi kita harus benar-benar menjaga perilaku dan perkataan kita. Anggota kerajaan dunia saja, misalkan keluarga kerajaan Inggris, pasti tidak akan bersikap seperti rakyat biasa. Mereka berbicara dengan santun, makan dengan aturan bangsawan, dan mereka hidup dengan banyak sekali aturan. Sebagai anggota kerajaan Tuhan, hidup kita harus mengikuti peraturan yaitu firman Tuhan. Inilah yang membedakan kita sebagai anak kerajaanNya. Selain itu supaya kita bisa menjadi saksiNya yang hidup, kita harus mengerjakan apa yang menjadi panggilan kita.

Yesus memanggil kita bukan hanya untuk datang kepada Dia, tetapi untuk pergi bagi Dia. (Rick Warren)

Menahan Diri

24 Oktober 2010
Bacaan : Matius 15 : 11-20
“Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik…”
Lukas 6 : 45

Dalam hidup bermasyarakat, kita tidak mungkin terlepas dari berita atau kisah hidup seseorang. Saat ada kejadian, mungkin kita bertanya, ”Ada apa sih?”, meskipun sebenarnya hal itu tidak ada hubungannya dengan kita. Setelah kita mendapatkan cerita dari seseorang yang mengetahui berita itu, biasanya kita akan menceritakan ke orang lain dan pada akhirnya berita pun tersebar. Namun masalahnya adalah cerita tersebut belum tentu sama dengan versi yang sesungguhnya.

Sama seperti permainan menyampaikan kata, jika ada 10 orang berdiri dalam sebuah barisan, maka orang pertama diberi informasi dan dia harus menyampaikan informasi itu ke teman berikutnya, begitu seterusnya hingga orang yang ke sepuluh. Percaya atau tidak, kalimat itu pasti tidak akan persis dengan kalimat yang diucapkan orang yang pertama. Demmikian pula saat kita mendengar cerita atau kabar tidak sedap tentang orang lain, yang belum tentu kebenarannya, apa yang kita lakukan? Kita akan menyimpannya sendiri atau akan meneruskannya pada orang lain? Semuanya itu tergantung pada kita. Namun satu hal yang perlu kita ingat, kita tidak tahu seberapa jauh kebenaran dari cerita tersebut. Mungkin saja orang yang bercerita pada kita memiliki dendam pribadi pada orang yang sedang ia bicarakan.

Satu hal yang Tuhan ingatkan, apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Jadi, kita harus berhati-hati terhadap mulut kita, agar apa yang keluar adalah berkat bukan kutuk. Kita harus belajar menahan diri terhadap segala berita buruk tentang orang lain dan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan kebenaran firman Tuhan.

When you are offered a morsel of gossip marinated in slander, do you turn it down or pass ot on? That depends on the state of your heart. (Max Lucado)

Jalan Menuju Sukses

23 oktober 2010
Bacaan : Amsal 14 : 12-19
”Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak”
Amsal 12:15

Seorang eksekutif muda bertemu dengan seorang guru di sebuah jalan raya. Ia bertanya, ”Guru, yang manakah jalan menuju sukses?” Sang guru terdiam sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata, sang guru menunjuk ke arah sebuah jalan. Eksekutif muda itu segera berlari menyusuri jalan yang ditunjukkan sang guru. Ia tak mau membuang-buang waktu lagi untuk meraih kesuksesan. Setelah beberapa saat melangkah tiba-tiba ia berseru, ”Ha! Ini jalan buntu!” Benar, di hadapannya berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan dan ia terpaku kebingungan. ”Barangkali aku salah menngerti maksud sang guru.”

Saat itu juga eksekutif muda itu berbalik menemui sang guru untuk menanyakan sekali lagi, ”Guru, yang manakah jalan menuju sukses.” Sang guru menunjuk ke arah yang sama. Eksekutif muda itu berjalan ke arah itu lagi. Namun yang ditemuinya tetap saja tembok yang menutupi jalan. Ia merasa dipermainkan. Dengan penuh amarah ia menemui sang guru, ”Guru, aku sudah menuruti petunjukmu, tetapi yang aku temui adalah sebuah jalan buntu. Aku tanyakan sekali lagi padamu, yang manakah jalan menuju sukses? Kau jangan hanya menunjukkan jari saja, tetapi bicaralah!” Akhirnya sang guru berbicara, ”Di situlah jalan menuju sukses. Hanya beberapa langkah saja di balik tembok itu.”

Keberhasilan seringkali tak tampak karena ia bersembunyi di balik kesulitan. Cuma orang-orang yang mampu mendaki ”tembok” itulah yang akan menemui keberhasilan.

A wise man be Master of His Mind A fool will be its slave. (Anonim)

SEPIRING NASI

22 Oktober 2010
Bacaan : I Korintus 16 : 5-18
“Karena mereka menyegarkan rohku dan roh kamu. Hargailah orang-orang yang demikian!”
I Korintus 16:18

Pada malam itu, seorang gadis bertengkar dengan ibunya dan langsung pergi meninggalkan rumah. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai nasi dan mencium harumnya aroma masakan, gadis itu ingin memesan, namun ia tidak membawa uang sepeserpun. Setelah cukup lama berdiri di depan kedai itu, tiba-tiba si pemilik kedai berkata, “Nona, apakah engaku ingin memesan sepiring nasi?” “Ya, tetapi, aku tidak membawa uang,” jawab gadis itu malu-malu. “Tidak apa-apa, silahkan duduk.” kata si pemilik kedai. Setelah pemilik kedai itu mengantarkan sepiring nasi, gadis itu mulai makan dan air matanya pun berlinang. “Ada apa?” Tanya si pemilik kedai. “Tidak apa-apa, aku terharu,” jawab gadis itu. “Seorang yang baru kukenal memberi aku makan!Tetapi.. ibuku sendiri, bertengkar denganku dan membiarkan aku pergi.” gadis itu melanjutkan pembicaraannya. pemilik kedai itu menjawab, “Nona, aku hanya memberimu sepiring nasi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak nasi untukmu mulai kau kecil, mengapa kau tidak berterima kasih?”

Seperti gadis muda, seringkali kita tidak menghargai apa yang kita miliki, terutama kita tidak menghargai pengajar firman di tempat kita. Saat ada pengkotbah baru, kita begitu terkesima dan mulai membanding-bandingkan pengajaran sang pengkotbah dengan gembala kita. Kita merasa bahwa pengkhotbah baru tersebut terasa begitu menyegarkan dan memberi rhema, sedang khotbah pendeta kita begitu datar dan membosankan. Sadarkah kita, berapa lama kita telah dikuatkan oleh khotbah-khotbah yang kita “cap” datar tersebut?

Tuhan telah menempatkan kita di bawah naungan seorang gembala yang bertanggung jawab akan pertumbuhan iman kita, yang dengan pengajarannya kita telah dibangun. Jadi hargailah pekerjaan gembala dan para pengajar kita. Paulus berkali-kali dalam sratnya, selalu mendorong jemaat Tuhan untuk menghargai para pembawa firman. Dengan firman yang mereka ajarkan, kita telah bertumbuh, karena itu hargailah mereka.

Kotbah bukanlah pertunjukan selama satu jam. Ini adalah luapan kehidupan. Ini membutuhkan 20 tahun untuk membuat sebuah kebaktian, karena dibutuhkan waktu 20 tahun untuk menjadikan seseorang. (E.M.Bounds)


Melayani Dengan Benar

21 Oktober 2010 
Bacaan : I Raja-Raja 19 : 9-15

”Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”
Roma 12:11

Rutinitas dalam dunia rohani seringkali menjebak kita dalam zona kemapanan, membuat kita merasa nyaman dan pada akhirnya membuat kehidupan rohani kita menjadi biasa-biasa saja. Seringkali kita merasa bahwa saat kita sudah melayani, mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan akan membuat kita semakin rohani dengan sendirinya. Padahal yang terpenting dalam kehidupan kita bukanlah pelayanan yang kita lakukan, memang hal itu penting tapi bukan yang terpenting, karena percuma kita melayani jika kita melakukannya karena sebuah keharusan dan hati kita kosong.

Sebuah pelayanan atau pun setiap tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan ini harus berdasarkan kehidupan yang bernafaskan Tuhan. Kita harus mengutamakan waktu-waktu yang berkualitas bersama Tuhan kita, agar api yang ada di dalam kita tetap menyala dan berkobar. Kita belajar dari Elia, yang melakukan hal yang luar biasa dengan membuktikan Tuhan yang sesungguhnya di hadapan para nabi Baal dan juga membunuh nabi Baal. Namun sesaat kemudian ia menjadi orang pelarian karena takut oleh ancaman Izebel. Elia mendapatkan kekuatannya kembali saat dia menyendiri jauh dari keramaian dan Tuhan hadir memberikan kekuatan, memberikan perintah sehingga selanjutnya Elia berangkat dan melaksanakan semua perintah Tuhan.

Bersama Tuhan, kekuatan itu ada, menyertai setiap alngkah dan setiap hal yang kita lakukan, sehingga bukan hanya sekedar rutinitas kosong yang tidak berdampak. Ingatlah, ”bukan orang yang berseru-seru Tuhan-tuhan yang akan masuk kerajaan surga, namun orang yang melakukan kehendakNya.” Karena itulah kita harus menjagai hubungan pribadi kita dengan Tuhan dan biarlah Roh yang menguasai kita, bukan kehendak hati kita lagi.

If we give God service it must be because He gives us grace. We work for Him because He works in us. (CH. Spurgeon)

From Zero to Hero

20 Oktober 2010
Bacaan :  Hakim-hakim 11:1-11

“…: besiaplah untuk peperangan, gerakkanlah para pahlawan; suruhlah semua prajurit tampil dan maju! Tempalah mata bajakmu menjadi pedang dan pisau-pisau pemangkasmu menjadi tombak; baiklah orang yang tidak berdaya berkata: “Aku ini pahlawan!””
Yoel 3:9-10

Apakah kita pernah merasa bahwa kita ini bukan siapa-siapa sehingga orang lain tidak menganggap kita? Menang pada kenyataannya dunia hanya memperhatikan dan meninggikan orang yang kaya, punya jabatan dan intelektual yang tinggi. Sebaliknya orang yang tidak memiliki semuanya itu seringkali dilecehkan dan dipandang sebelah mata.

Tetapi tahukah kita bahwa Tuhan banyak memakai pahlawan-pahlawan iman justru saat keberadaan mereka pada waktu titik nol. Daud adalah anak yang tersisihkan dari saudara-saudaranya sehingga pekerjaannya hanya sebagai gembala kawanan ternak ayahnya. Namun Tuhan memakai sebagai alatNya sehingga Daud yang kecil secara fisik bisa mengalahkan Goliat, raksasa Filistin itu dan akhirnya menjadi raja Israel menggantikan Saul.

Bagaimana caranya agar kita sebagai orang percaya bisa merubah keadaan kita dari titik nol menjadi seorang pahlawan atau orang yang berhasil seperti istilah from zero to hero? Pertama, membawa segala perkara kita kepada Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan mampu merubah keadaan kita dan masa depan sungguh ada bagi orang yang takut akan Tuhan. Kedua, mengambil tindakan. Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia seperti halnya kita tidak dapat ke lantai dua jika tidak melangkah naik ke anak tangga pertama. Jika kita hanya menunggu saja tanpa berbuat sesuatu, Tuhan juga tidak akan bekerja. Ketiga, tekun dan setia dengan apa yang kita kerjakan. Dunia saja bisa melihat keberhasilan yang dicapai oleh orang yang tekun dan setia. Thomas Alfa Edison memerlukan ketekunan dan kesetiaan, dia tidak menemukan lampu dengan sekali percobaan saja. Banyak pengusaha sukses yang keluar dari kemiskinan karena mereka bekerja dengan tekun. Jadi kita harus bertekun dengan apa yang kita kerjakan.

Tuhan menanam “benih” di dalam Anda yang dipenuhi kemungkinan, potensi yang luar biasa, ide yang kreatif, dan impian. Akan tetapi Anda harus memanfaatkan itu semua. Anda harus percaya melampaui bayangan keraguan bahwa Anda memiliki apa yang dibutuhkan. (Joel Osteen)

DOA

19 Oktober 2010
Bacaan : Kisah Para Rasul 4 : 23-31
“TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya”
Amsal 15 : 29

Tuhan yang penuh dengan cinta berjanji di sepanjang Alkitab untuk menjadi Bapa dan Pemelihara kita yang setia, masih meminta kita untuk berdoa setiap hari. Doa adalah hal terbaik yang bisa Anda berikan bagi Tuhan. “Doa adalah segalanya”, tulis Oswald Chambers. Apa pun yang terjadi di dunia ini, bagi Tuhan doa selalu berada di tengah-tengahnya.

Hal yang sama berlaku dalam kitab Kisah Para Rasul, kitab ini menjadi semacam buku pedoman tentang doa. Bagian mana pun Anda membukanya, Anda akan menemukan para murid sedang berdoa, dan hasilnya, berbagai hal luar biasa terjadi. Doa memicu tindakan Tuhan. Jawaban Tuhan sangat cepat dan mengagumkan: “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua dipenuhi oleh Roh Kudus” (Ay.31). Para rasul menjadikan doa sebagai prioritas utama (Kis.6:4). Gereja berdoa ketika ada pemilihan diaken dan penatua dan ketika ada misionaris yang akan diutus (13:3). Kita juga membaca tentang mereka yang berdoa ketika Petrus dijebloskan ke penjara (12:5,12). Oswald Chambers berkata, ”Sisi baik dari Doa adalah bahwa hal itu membawa kita pada pengenalan akan Tuhan.” Oswald juga mengingatkan kita, ”Satu-satunya tempat berteduh adalah di dalam Tuhan, dan satu-satunya cara untuk sampai kepada Tuhan adalah melalui doa.”

Bukankah sekarang waktunya kita mengenal Tuhan secara lebih dalam, dan lebih banyak lagi menimba kekuatan-Nya? Dan cara agar hal ini terjadi adalah melalui lebih banyak doa. Saat menghadapi tantangan, berdoalah. Saat berkat melimpah, berdoalah. Tuhan mendengar doa-doa Anda karena Tuhan itu hanya sejauh doa.

Doa adalah usaha untuk mendapatkan Tuhan sendiri Sang Pencipta Kehidupan. (Sundar Singh)

Ingin Dihargai

18 Oktober 2010
Bacaan : Ester 4 : 9-14

“Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya, atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mempergunakannya? Seolah-olah gada menggerakkan orang yang mengangkatnya, dan seolah-olah tongkat mengangkat orangnya yang bukan kayu!”
Yesaya 10:15

Haman mengalami kenaikan pangkat, kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar kerajaan, karena itu pula ia berhak untuk mendapatkan penghargaan dan penghormatan dari semua pegawai raja yang lain. Rupanya Haman sangat menikmati kehormatan yang diberikan kepadanya, terbukti saat ada Mordekhai yang tidak mau tuduk memberi hormat, hatinya menjadi panas dan hal it uterus mengganggu pikiran Haman.

Seorang Gembala Gereja pernah diundang oleh seorang pengusaha kaya raya dari kota lain, saat Gembala gereja ini diundang untuk berbicara di tempat si pengusaha kaya, maka ia selalu dijemput dan diberikan pelayanan yang luar biasa, bahkan si pengusaha ini dengan rela hati membawakan koper atau pun barang-barang Bapak Gembala ini. Hingga suatu saat Gembala ini ditegur oleh Tuhan, “Sampai kapan engkau menikmati penghormatan seperti ini?”

Saat kita telah melakukan pelayanan, diberi talenta yang lebih dari orang lain, dipandang sebagai senior, apakah hal itu membuat diri kita layak untuk dihormati? Pada dasarnya kita semua adalah hamba karena itu tidak ada satupun dari kita yang layak untuk menerima penghormatan karena hanya Tuhanlah yang layak! Jika kita diberikan sesuatu yang lebih, itu semua berasal dariNya. Mungkinkah kita menyembuhkan dengan kekuatan kita sendiri? Menjamah orang sehingga mereka bertobat? TIDAK! Semua itu adalah pekerjaan Tuhan, kita hanyalah alatNya. Karena itu jangan pernah memandang diri ini hebat, segala Pujian dan Hormat hanya bagi Tuhan!!

Many are willing that Christ should be something, but few will consent that Christ should be everything. (Alexander Moody Stuart)


LEPASKAN PEGANGANMU

17 Oktober 2010
Bacaan : Matius 14 : 22-23
“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
Amsal 3:5
Suatu hari, seorang pria mengajak putranya bermain ke taman, begitu sampai di taman, putranya langsung berlari ke arah permainan yang paling disukainya, sebuah palang untuk bergantung. Kaki kecilnya bergantung sekitar 5 kaki di atas tanah. Setelah beberapa menit kemudian, dia mulai lelah dan meminta diturunkan. Ayahnya menjawab, “Lepaskan saja peganganmu dan aku akan menangkapmu.” Terlihat segurat keraguan di wajahnya, dia berkata, “Tidak, turunkan aku.” Sang ayah kembali berkata, “Josh, jika kamu lepaskan peganganmu, maka aku akan menangkapmu.”
Bagi sang ayah, ini adalah kesempatan untuk mengajar putranya bahwa dia bisa mempercayai ayahnya; ia hanya perlu melepaskan pegangan pada palang itu, dan ayahnya akan menangkapnya. Tetapi anak kecil itu memilih untuk tetap bertahan, berpegangan hingga tangannya kelelahan dan saat itu barulah ia melepaskan pegangannya untuk ditangkap oleh ayahnya. Demikian pula saat Petrus diperintahkan untuk berjalan di atas air, ia melakukan hal yang memerlukan kepercayaan total kepada Yesus. Ini bukan trik sulap, tapi iman yang penuh; bukan uji nyali, tapi terobosan hidup. Berbeda dengan si anak yang tadinya takut dan pasrah karena terpaksa, Petrus pada awalnya beriman, namun kondisi sekitar menggoyahkan imannya.
Bagaimanakah kondisi kita saat ini, seperti si anak kecil itu ataukah seperti Petrus? Pasrah karena terpaksa atau beriman dan mulai goyah? Sadarilah bahwa Bapa kita menjaga kita dengan sedemiakian indahnya. Jika sehelai rambut saja tidak Ia biarkan hilang (Lukas 21:28), masakan Ia membiarkan hidup kita? Jangan ragukan Tuhan, lakukanlah apa yang Ia perintahkan tanpa ketakutan sedikitpun. Saat kita taat dan melakukannya, bukan saja kita melihat masalah kita terselesaikan tapi lompatan iman yang besar akan kita alami.
Mempercayai Tuhan sepenuhnya berarti memiliki iman bahwa Dia tahu apa yang terbaik bagi kehidupan Anda. (Rick Warren)

APA YANG MENGGERAKKAN HATIMU??

16 Oktober 2010
Bacaan : Mazmur 139 : 23-24
“Selidikilan aku, ya Tuhan, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.”
Mazmur 139 : 23
Hidup manusia digerakkan oleh banyak tujuan yang didasari oleh banyak hal seperti sakit hati, dendam, ataupun kekayaan. Genghis Khan mempunyai masa kecil yang keras sehingga menjadikannya pribadi yang berambisi, keras dan tanpa belas kasihan. Kehidupan masa kecil menggerakkan tujuan hidupnya untuk menjadi penguasa. Sedangkan Hitler sakit hati kepada ayahnya yang seorang Yahudi karena sering menyiksa ibunya. Hal itu membuat Hitler benci kepada orang Yahudi dan membunuh banyak orang Yahudi semasa hidupnya. Banyak orang mengalami kepahitan akan kemiskinan di masa kecilnya, sehingga hidupnya dipacu dengan kerja keras untuk menjadi kaya supaya ia dihormati dan dipandang oleh masyarakat.
Banyak hal yang bisa menggerakkan hidup kita, tetapi apakah kita pernah bertanya apakah tujuan hidup kita itu sesuai dengan kehendak Tuhan? Kita diciptakan oleh Tuhan dengan memiliki tujuan yang mulia dalam hidup kita. Kita hidup di muka bumi tidak hanya untuk membuat sesak bumi saja. Hidup kita memiliki panggilan untuk mengemban tanggung jawab yang besar dari Tuhan, panggilan inilah yang hendaknya menggerakkan hati kita. Jika kita hidup untuk diri kita saja, apakah keuntungannya? Tidakkah kita sadari bahwa dunia ini memerlukan kita. Kalau kita hidup hanya untuk mengejar kekayaan saja, mau sampai berapa kayakah kita? Akan selalu ada orang yang lebih kaya, sejarah tidak pernah mencatat ada orang yang terkaya sepanjang masa. Di hari penghakiman, Tuhan akan bertanya, “Apakah kita sudah melakukan pekerjaanNya dalam hidup kita di dunia?” karena itu gerakkanlah hati dan pikiran kita terarah pada perkara Surga karena Tuhan akan segera datang.
Anda tidak ditempatkan di bumi untuk diingat. Anda ditempatkan di sini untuk bersiap-siap menghadapi kekekalan. (Rick Warren)

CARA MENGHABISKAN WAKTU

15 Oktober 2010
Bacaan : Yesaya 55 : 6-7
”Mendekatlah kepada Tuhan, dan Ia akan mendekat kepadamu”
Yakobus 4:8a

Di Singpura hampir semua orang menggunakan ipod, sibuk dengan hp atau membaca majalah saat mereka naik MRT. Jika kita renungkan, maka dalam sehari berapa lama waktu yang kita habiskan untuk kesibukan kantor, menonton televisi, browsing internet untuk menambah pengetahuan atau mendengarkan musik untuk mengisi waktu luang? Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk Tuhan?

Televisi, radio dan lainnya memang menjadi bagian kehidupan yang normal di sekitar kita. Namun jika kita menghabiskan waktu untuk memperoleh informasi yang tidak berdasarkan Firman Tuhan maka kita akan mengecilkan keberadaan Tuhan di dalam kita. Jika kita selalu mengkonsumsi tayangan sinetron, gosip di infotainment dan lagu-lagu bernafaskan keputusasaan, sedangkan waktu kita merenungkan Firman Tuhan, berdoa, dan kegiatan rohani lainnya tidak sebanding denga semua itu, maka lama kelamaan kita akan terus kuatir, berpikir negatif, kehilangan iman dan mungkin kita jadi menyangkali Tuhan.

Coba kita renungkan bagaimana kita hidup dan marilah kita mencoba untuk mengambil break dengan diam sesaat, tanpa televisi, tanpa musik dan masuk dalam keheningan dalam Tuhan, dalam doa dan penyembahan kepada Nya. Bukannya tidak boleh menggunakan semuanya itu, tapi jangan sampai hal-hal itu menggeser kedudukan Tuhan dalam hidup kita. Mari kita luangkan lebih banyak waktu untuk mengenali Tuhan kita, bersaat teduh dan melakukan bacaan Firman Tuhan agar kita bisa mendengar suaraNya.

One of the best tests of whether a person is a mature Christian is what he does with his leisure time. (Anonymous)

SUJUD

14 Oktober 2010
Bacaan : Bilangan 14 : 5-10

“TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, ….
dan aku menunggu-nunggu.”
Mazmur 5:4

Dua orang hamba Tuhan bertemu di sebuah bandara, dan terlibat percakapan seru, di tengah obrolan, hamba Tuhan A, yang baru merintis gereja bertanya pada hamba Tuhan B yang telah memiliki beberapa gereja: “Pak, apa rahasianya dalam mengikut Tuhan yang membuat Bapak semakin naik, bukan semakin turun?” Lalu hamba Tuhan B menjawab, “Saat saya mau masuk hadirat Tuhan, saat saya hendak berbicara denganNya, saya selalu bersujud dan menyembahNya dan menikmati kebersamaan dengan Tuhan.”

Tentang pentingnya bersujud dan menyembah Tuhan, Alkitab menuliskan kisah ketika kesepuluh pengintai bercerita hal yang buruk tentang tanah Kanaan, bangsa Israel bersungut-sungut bahkan hendak melempari Musa dan Harun dengan batu. Saat itu sujudlah mereka berdua dan kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN di kemah pertemuan kepada semua orang Israel dan hendak memusnahkan bangsa Israel. Seandainya saat itu Musa tidak sujud dan membela bangsa Israel, pastilah mereka sdah musnah.

Di antara kita mungkin ada yang pernah mengalami hal yang sama seperti yang dialami Musa, merasa sendiri di tengah keramaian, merasakan hati sedih dan tidak dimengerti oleh orang lain, dengan kata lain hanya ada Anda dan TUHAN saja. Jika saat ini Anda mengalami hal yang demikian, maka ini saatnya yntuk mengambil waktu dan bersujud di hadapan Tuhan. Semua beban dan masalah yang belum selesai, yang membuat Anda tidak bisa menikmati setiap berkat yang Tuhan berikan, serahkanlah seluruhnya dan percayalah kepadaNya. Kaki yang diawali dengan berlutut untuk berdoa pada pagi hari, akan menjadi kaki yang kuat dan tidak akan mudah tersandung untuk berjalan sepanjang hari ini. Amin.

Doa seharusnya menjadi kunci pembuka hari dan kunci penutup hari di malam hari. (Thomas Fuller)

TETAPLAH BERDOA

12 Oktober 2010
Bacaan : Raja-raja 8 : 27-34


”Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau...”
Yeremia 33:3


Sebuah surat kabar memberitakan kisah seorang anak yang masih hidup setelah lima hari ”terbenam” di rawa yang penuh buaya di Florida, Amerika Serikat. Nadia Bloom, gadis berusia 11 tahun ini ditemukan dalam keadaan menderita gigitan nyamuk, dehidrasi, serta sangat lapar, tetapi selebihnya baik-baik saja. Kepala Polisi setempat yang memberikan pernyataan kepada media juga menambahkan ”Sebelumnya saya tidak pernah percaya pada mujizat, sekarang saya percaya.”

Saat ditemukan, Nadia terbenam hingga pinggang. Kepada tim penolong Nadia berkata, ”Saya senang kalian bisa menemukan saya. Saya tidak percaya kalian bisa menyelamatkan saya.” Saat diwawancarai, ayah Nadia mengatakan, ”Kami dilimpahi kasih semua orang. Saya percaya semua orang yang mendengar berita ini turut berdoa. ”Nadia ditemukan oleh King, seorang anggota gereja di Florida, tempat keluarga Bloom juga berjemaat. Kepada wartawan, King berkata, ”Tuhan telah mengarahkan saya langsung ke tampat Nadia berada, Tuhan menjawab doa-doa kami.”

Doa memang tidak menyediakan jawaban tepat di depan mata kita, tapi doa memampukan kita menemukan jawaban untuk setuap persoalan kita. Bila saat ini Anda hampir putus asa dan mengalami kejenuhan karena doa yang tiada terjawab, maka ’tetaplah berdoa’. Justru dalam keadaan, situasi, waktu dan tempat, yang membuat Anda sulit untuk berdoa, Anda HARUS tetap berdoa. Karena doa adalah komunikasi dua arah maka harus ada kesehatian antara Anda dan Tuhan. Satu hal yang perlu Anda sadari tentang doa, bahwa jawaban doa adalah mutlak terserah Tuhan. Saat Anda berdoa, bersiaplah untuk menerima jawaban dari Tuhan: ya, tidak atau tunggu.

Prayer is simply a two-way conversation between you and God. (Billy Graham)



Mencintai Hukum

11 Oktober 2010
bacaan : Mazmur 119 : 1-8

Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.
Mazmur 119 :1

Morning Coffee :
Seorang teman mengeluhkan peraturan baru yang diterapkan General Manager barunya di kantor tempatnya bekerja. Ia berkata bahwa sejak GM itu diangkat, jam kerja diberlakukan dengan ketat, peraturan-peraturan pun semakin mempersempit ruang gerak mereka. Saat masih sekolah dulu, peraturan menjadi "momok". Seolah tidak ada keadilan bagi para siswa.

Intinya manusia tidak terlalu menyukai peraturan, hukum, perintah, dan larangan dalam bentuk apapun. Mengapa? Karena kebebasan dan kenyamanannya seolah terenggut. Meskipun setiap orang mengakui pentingnya peraturan, tidak seorangpun yang mencintainya. Apalagi sampai menggubah puisi yang menunjukkan kecintaan seseorang pada peraturan. Namun, itulah yang dilakukan Daud, kesukaan dan kecintaannya akan setiap hukum Tuhan, dituangkan dengan penuh gairah ke dalam sebuah mazmur. Daud menyadari bahwa sebagai seorang musafir di dunia ini, ia harus berhadapan dengan begitu banyak ketidakpastian, bahaya, dan kebinasaan. Akan tetapi, satu-satunya yang dapat menjadi penuntunnya adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan menuntun bukan dengan motivasi untuk mengekang tetapi untuk menyelamatkan dan memerdekakan.

Bagaimana sikap hati kita terhadap hukum-hukum Tuhan? Apakah kita keberatan dengan semua itu? Apakah kita menyesal menjadi seorang Kristen yang harus dibebani dengan berbagai peraturan? Tuhan sangat mengasihi anak-anakNya. Hukum-hukumNya adalah salah satu bukti kasihNya. Bersyukurlah, bersukacitalah, taatilah setiap hukumNya, karena inilah yang akan memerdekakan hidup kita. 

Kita adalah kemuliaan milik Tuhan, ketika kita mengikuti jalanNya. (Florence Nightingle)