SEPIRING NASI

22 Oktober 2010
Bacaan : I Korintus 16 : 5-18
“Karena mereka menyegarkan rohku dan roh kamu. Hargailah orang-orang yang demikian!”
I Korintus 16:18

Pada malam itu, seorang gadis bertengkar dengan ibunya dan langsung pergi meninggalkan rumah. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai nasi dan mencium harumnya aroma masakan, gadis itu ingin memesan, namun ia tidak membawa uang sepeserpun. Setelah cukup lama berdiri di depan kedai itu, tiba-tiba si pemilik kedai berkata, “Nona, apakah engaku ingin memesan sepiring nasi?” “Ya, tetapi, aku tidak membawa uang,” jawab gadis itu malu-malu. “Tidak apa-apa, silahkan duduk.” kata si pemilik kedai. Setelah pemilik kedai itu mengantarkan sepiring nasi, gadis itu mulai makan dan air matanya pun berlinang. “Ada apa?” Tanya si pemilik kedai. “Tidak apa-apa, aku terharu,” jawab gadis itu. “Seorang yang baru kukenal memberi aku makan!Tetapi.. ibuku sendiri, bertengkar denganku dan membiarkan aku pergi.” gadis itu melanjutkan pembicaraannya. pemilik kedai itu menjawab, “Nona, aku hanya memberimu sepiring nasi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak nasi untukmu mulai kau kecil, mengapa kau tidak berterima kasih?”

Seperti gadis muda, seringkali kita tidak menghargai apa yang kita miliki, terutama kita tidak menghargai pengajar firman di tempat kita. Saat ada pengkotbah baru, kita begitu terkesima dan mulai membanding-bandingkan pengajaran sang pengkotbah dengan gembala kita. Kita merasa bahwa pengkhotbah baru tersebut terasa begitu menyegarkan dan memberi rhema, sedang khotbah pendeta kita begitu datar dan membosankan. Sadarkah kita, berapa lama kita telah dikuatkan oleh khotbah-khotbah yang kita “cap” datar tersebut?

Tuhan telah menempatkan kita di bawah naungan seorang gembala yang bertanggung jawab akan pertumbuhan iman kita, yang dengan pengajarannya kita telah dibangun. Jadi hargailah pekerjaan gembala dan para pengajar kita. Paulus berkali-kali dalam sratnya, selalu mendorong jemaat Tuhan untuk menghargai para pembawa firman. Dengan firman yang mereka ajarkan, kita telah bertumbuh, karena itu hargailah mereka.

Kotbah bukanlah pertunjukan selama satu jam. Ini adalah luapan kehidupan. Ini membutuhkan 20 tahun untuk membuat sebuah kebaktian, karena dibutuhkan waktu 20 tahun untuk menjadikan seseorang. (E.M.Bounds)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar